//
archives

Catatan Harian Anker

This category contains 3 posts

Hakikat Puasa Adalah Menahan Diri

Hakikat Puasa Adalah Menahan Diri
Jum’at 3 September 2010, 7 hari menjelang lebaran. Wow suasana di Stasiun Besar  Bandung ramai sekali, it’s absolutely crowded:). Menurut informasi hari itu KRD Patas  agak telat dari jadwal, entah apa penyebabnya, yang jelas penumpang sudah tiga kali lipat hari biasa. Inilah, ritual yang sama setiap tahunnya di bulan Ramadhan pasca THR di bagikan, ‘marema’ yups situ istilahnya, saat orang-orang ramai berburu barang baru ke Pasar Baru, Mall, Trade Center, Gasibu, pokoknya Pusat Perbelanjaan termasuk Pasar Tradisional menjadi tempat favorit .

Mengapa mereka begitu antusias? Memburu barang-barang baru dengan satu alasan yang sama yaitu Lebaran. Mereka yang pergi berbelanja hari itu telah begitu kompaknya pikiran dan hati mereka, hingga kaki pun melangkah mantap menuju pasar baru padahal mereka tahu kondisinya, penuh sesak, duk dek, hese usik, malah ga eksis.

Aku membayangkan, jikalau semangat semacam itu, kekompakan, kemantapan yang demikian euphoria itu tepat tersalurkan untuk Jihad, pastilah hasilnya luar biasa!!

Sayang kalau hanya untuk tampil eksis di hari lebaran (bukan berarti tidak boleh), mereka sanggup berlelah-lelah, berdesakan, bercape-cape, berkorban waktu dan tenaga, pertanyaannya sudahkah kita segarang itu memperjuangkan Malam Lailatul Qadar?? demi mengharap ampunan Allah yang nyata-nyata Allah mengobral-Nya di sepuluh hari terakhir Ramadhan, adakah semangat kebersamaan yang begitu kuat itu untuk berbagi bersama kaum dhuafa??

Kawan, puasa itu hakikatnya adalah menahan diri, bersabar agar kita semua dapat lebih memaknai kehidupan, agar kehidupan kita bukanlah hidup yang sia-sia hanya untuk urusan dunia. Sejenak kita teringat saudara kita di Palestina sesungguhnya mereka sebenar-benarnya berpuasa demi mengharap Ridho Allah. Mereka puasa dalam cuaca panas, stabilitas politik yang kacau, tanpa rasa aman ketika tarawih, bahkan dengan persediaan bahan makan yang terbatas sekedar untuk sahur atau berbuka.

Kita di Indonesia mungkin baru sebatas menunda lapar dari rentang waktu subuh, hingga maghrib. Kita sahur dengan segala makanan lezat terhidang, dan berbuka dengan makanan berlimpah hanya tinggal memilih makanan mana yang kita sukai.

Kita mungkin baru bisa merasakan lapar, tetapi belum berbagi bagaimana mengatasi rasa lapar. Karena orang-orang yang rela menyisihkan sebagian hartanya di bulan ramadhan dan membaginya dengan kaum yang lebih membutuhkan, yang memenuhi majelis ta’lim atau atau pengajian, ternyata tidak berbanding lurus dengan orang memenuhi pasar baru!

Tetapi harapan selalu ada, walau tidak sebanding jika membandingkan bagaimana penuhnya masjid-masjid dengan orang yang I’tikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan dengan penuhnya Mall atau Pusat Perbelanjaan, namun kaum muda generasi Qur’ani akan senantiasa eksis dalam jalur dawah demi mulianya Al-Qur’an dan Islam di bumi persada, mereka yang memancarkan semangat jihad di hati dan fikiran dan setiap langkah mudanya. Amin

Yuk Anker, kita tetap semangat di hari-hari terakhir ramadhan berburu pahala, dan bukannya berburu barang baru.

Lebaran dengan hati baru bukan barang baru:)

Kesuksesan Tidak Harus Selalu Berupa Materi

Banyak orang seringkali mengukur kesuksesan dengan ukuran materi. Punya rumah mewah, mobil mewah, jabatan ABCD, baru dibilang sukses, apa benar begitu?

Setiap pagi ketika berjalan menuju kantor tempat dimana saya bekerja, seringkali saya berpapasan dengan ‘mamang’ tukang sampah. Ia begitu setia mendorong gerobak sampah, kotor dan bau mimiknya demikian serius dengan pekerjaannya. Pagi gerobaknya masih kosong. Sore harinya, kalau kebetulan berpapasan (lagi) gerobak sampahnya telah penuh sampah orang sekomplek. Kotor, bau, jijik. Tapi ‘mamang’ tukang sampah demikian serius dengan apa yang dia kerjakan. Hari demi hari ia jalani dengan tabah, tulus, & ikhlas. Buktinya ia setia dengan pekerjaannya, mengangkut sampah!

Pertanyaannya apa ‘mamang’ tukang sampah ini termasuk orang sukses bukan?

Silahkan teman2 yang membaca tulisan ini menjawab dengan argumen masing2.

Kalau parameter kesuksesan diukur dengan materi, mamang tukang sampah pastilah dibilang bukan orang sukses.

Sekarang coba kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Kita rubah parameternya, dengan keikhlasan. Menurut saya ‘mamang” tukang sampah adalah orang yang sangat-sangat sukses. Mengapa?

Sungguh ia telah sukses memanage hatinya untuk ikhlas menerima pekerjaan dan profesinya sebagai tukang sampah. Orang seringkali mengernyit ketika bertemu, padahal dibalik semua kelusuhannya, dibalik pakaiannya yang kotor, ia telah berhasil membersihkan sampah orang-orang sekomplek.

Mamang tukang sampah, telah sukses bersyukur dengan apa yang ia terima menjadi rezekinya di hari itu. Ia sukses meredam semua keinginan yang juga dipunyai banyak orang yaitu “HIDUP SENANG”, keinginan yang seringkali menggelincirkan orang kepada perbuatan ‘nista’ yang tak termaafkan!

Yang terpenting disini, kita harus bisa sukses mensyukuri nikmat, karunia, rezeki yang Allah berikan yang telah ada dalam genggaman, melihat & merasakannya. Bukan sebaliknya, mengabaikan karena mengharapkan segala’ sesuatu’ yang justru belum ada.

Salam Sukses.

Catatan harian Anker (Anak Kereta)

Selamat Datang di Nuansa Senyum’sWordPress.com. Catatan harian Komunitas Pengguna Keret Api Baraya Geulis Rute Cicalengka – Bandung – Cicalengka.

Pengunjung Blog Ini

  • 617 hits

My Live Tweet

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.